Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 6
**Bab 6: Pengakuan Rina yang Membuat Malam Semakin Panas**
Aku, Andi, pulang larut malam itu karena lembur proyek mendadak di kantor. Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam ketika motor aku memasuki gang kumuh yang gelap dan sepi. Bau got bercampur asap rokok tetangga masih menusuk hidung, tapi pikiranku sudah penuh dengan bayangan Rina. Sepanjang hari di kantor, aku terus membayangkan apa yang terjadi pagi tadi — Pak Ujang dengan candaan mesumnya dan anak-anak kampung yang semakin jahil. Tubuh istriku yang cantik dari Bogor itu seperti magnet di sarang serigala ini, dan aku semakin ketagihan dengan sensasi terlarang itu.
Rumah kecil kami sudah gelap, hanya lampu kamar tidur yang menyala redup. Aku membuka pintu pelan, dan langsung melihat Rina duduk di tepi kasur, masih memakai daster rumah tipis yang sama dari pagi. Rambut hitam panjangnya tergerai basah, seolah baru mandi. Wajahnya merona merah, mata agak berkaca-kaca, dan kakinya gelisah saling gesek. Begitu melihatku, dia langsung berdiri dan memelukku erat, tubuhnya yang hangat menempel penuh.
“Mas… kamu akhirnya pulang,” bisiknya dengan suara gemetar. Aku bisa merasakan putingnya yang keras menekan dada ku melalui kain tipis. “Hari ini… banyak yang terjadi. Aku harus cerita ke Mas.”
Kami duduk di kasur. Aku menariknya ke pangkuan, tanganku otomatis merayap ke paha mulusnya. “Cerita aja, Rin. Aku sudah bayangin seharian.” Rina menggigit bibir bawahnya, salah tingkah, tapi ada kilau hasrat di matanya yang tak bisa disembunyikan. Dia mulai bercerita dengan suara pelan, napasnya kadang tersengal.
Pagi tadi, setelah aku berangkat, Pak Ujang datang lebih awal seperti biasa. Rina keluar dengan daster merah muda pendek itu untuk beli sayur. “Mas, dia langsung genit banget. Katanya kemarin malam dia lewat gang dan dengar… dengar desahan aku yang keras waktu kita di dapur dan sofa,” kata Rina, wajahnya semakin merah. “Dia bilang, ‘Wah Mbak, suaranya enak banget. Kayak kucing bunting minta jantan. Bapak sampe nggak bisa tidur, bayangin Mbak yang montok lagi dientot suami.’ Candaannya semakin kasar, Mas.”
Aku meremas paha Rina lebih kuat, batangku mulai mengeras di balik celana. Rina melanjutkan, suaranya semakin rendah. Pak Ujang lalu mengambil terong besar dari keranjang — panjang, tebal, dan berurat. Sambil tertawa nakal, dia mendekatkan terong itu ke tubuh Rina. “Dia pura-pura nunjuk sayur, tapi… Mas, dia gesekkan terongnya pelan ke paha aku, naik ke bawah daster, tepat di depan… depan vagina aku dari luar kain,” bisik Rina gemetar. “Kain daster tipis, Mas. Aku bisa ngerasain bentuknya yang besar dan keras digesek pelan di situ. Dia bilang, ‘Ini terong Bogor asli, Mbak. Besar kayak punya Bapak. Cocok buat Mbak yang suka desah keras. Kalau suami lembur lagi, Bapak bisa bantu masukin yang asli.’ Aku salah tingkah banget, Mas. Tapi… basah. Aku nggak langsung mundur.”
Anak-anak kampung juga datang tak lama kemudian. Budi, Dodi, dan yang lain sudah berani sekali. Mereka mengerubungi Rina di teras saat Pak Ujang masih di situ. “Mereka langsung cerita, Mas. Bilang mereka liat kita kemarin… liat aku naik turun di pangkuan Mas di sofa, payudara aku bergoyang-goyang, dan desahan aku yang ‘Mas… lebih dalam!’ Mereka tiru suaraku sambil ketawa nakal. Budi bilang, ‘Mbak Rina hot banget waktu doggy di dapur. Bokong Mbak putih mulus, kami pada ngocok sampe keluar.’ Aku malu banget, Mas. Wajah aku panas, tapi tubuh aku… horny. Puting aku keras, dan vagina aku banjir.”
Rina menceritakan semuanya dengan detail, suaranya semakin tersengal. Tangannya tanpa sadar meremas lenganku. “Pak Ujang ketawa dan bilang, ‘Lihat tuh, Mbak. Anak-anak sudah pada dewasa gara-gara Mbak. Besok Bapak bawa terong lebih besar lagi.’ Dia gesek terongnya lagi, lebih lama, tepat di celah vagina dari luar daster sampai kainnya agak basah. Anak-anak pada ngeliatin, beberapa pegang celana mereka. Aku cuma bisa tertawa malu dan kasih mereka es teh, tapi kakiku gemeteran, Mas. Aku pulang ke dalam, tapi… aku langsung ke kamar mandi, sentuh sendiri sebentar karena terlalu horny.”
Aku tak tahan lagi. Cerita Rina membuat darahku mendidih. Aku membaringkannya di kasur, menarik daster-nya naik hingga pinggang. Celana dalamnya sudah basah sekali. “Kamu suka ya, Rin? Digodain Pak Ujang dengan terongnya, didengerin anak-anak cerita kita bercinta?” tanyaku serak sambil menurunkan celana dalamnya. Rina mengangguk pelan, matanya berkabut nafsu. “Iya, Mas… aku salah tingkah, malu, tapi basah banget. Mereka semua nginginin aku.”
Aku menjilat vaginanya yang banjir, mengecap rasa manisnya yang sudah campur hasrat seharian. Lidahku menari di klitoris yang membengkak, membuat Rina mengerang keras seperti pagi tadi. “Mas… ahh… mereka liat kita… Pak Ujang gesek terongnya di situ…” Aku memasukkan dua jari, mengaduknya cepat sambil membayangkan terong besar Pak Ujang menggesek bibir vagina Rina dari luar kain.
Rina klimaks pertama dengan cepat, tubuhnya kejang, cairannya menyembur pelan ke mulutku. Aku naik ke atasnya, memasukinya dengan satu dorongan kuat. Tubuh montoknya menyambut sempurna, vagina-nya panas dan licin. Aku menggenjotnya dalam-dalam, payudaranya bergoyang liar di depan wajahku. “Besok biarin Pak Ujang lebih berani lagi. Biarin anak-anak pegang lebih lama,” bisikku sambil menggigit putingnya. Rina mengerang liar, kakinya melingkar di pinggangku. “Mas… enak… aku horny banget hari ini… mereka semua mau aku…”
Kami berganti posisi. Aku membungkukannya doggy style, menghadap jendela yang sengaja terbuka sedikit. Bokong montoknya yang putih kugoyang-goyangkan, menamparnya pelan hingga merah. Setiap hantaman membuat suara plok-plok basah memenuhi kamar. Rina mendesah tanpa malu lagi, “Mas… bayangin terong Pak Ujang… ahh… anak-anak ngintip lagi…” Aku meremas bokongnya kuat, membayangkan tangan-tangan kasar anak kampung dan pria tua itu menyentuh istriku.
Rina klimaks kedua dengan hebat, vagina-nya meremas batangku seperti ingin memerasnya kering. Aku menyusul tak lama kemudian, menyemburkan sperma panas dalam-dalam sambil mendekapnya erat dari belakang. Kami ambruk bersama, napas tersengal, tubuh lengket keringat dan cairan.
Setelahnya, Rina bersandar di dadaku, jarinya menggambar lingkaran di perutku. “Mas… aku takut tapi… aku mau besok mereka lebih berani lagi. Kamu nggak marah?” Aku mencium rambutnya, tersenyum dalam gelap. “Aku suka, Rin. Kamu tetap milikku, tapi melihat kamu diinginkan banyak orang… membuat aku gila. Besok aku pulang lebih awal, mau lihat sendiri.”
Malam itu kami bercinta sekali lagi, lebih pelan tapi penuh fantasi. Rina menceritakan ulang detail godaan Pak Ujang dan cerita anak-anak dengan suara mendesah, membuat ronde kedua semakin panas. Kampung kumuh ini telah mengubah kami berdua. Rina yang polos dari Bogor kini mulai larut dalam godaan, dan aku sebagai suaminya semakin terjerat dalam kenikmatan gelap yang tak terduga.
Di luar, suara angin malam bercampur bisik-bisik samar dari gang. Besok akan lebih liar lagi.
Komentar
Posting Komentar