Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 8

**Bab 8: Gula yang Semakin Manis di Tengah Kerumunan Semut**

Aku, Andi, duduk di kursi kantor dengan pintu ruangan terkunci. Ponselku tergeletak di meja, aplikasi CCTV terbuka penuh layar. Earphone menempel di telinga, menangkap setiap suara dari rumah kecil kami di kampung kumuh ini. Hari ini aku sengaja tak pulang cepat. Aku ingin menyaksikan semuanya secara real-time, tanpa gangguan. Rina tak tahu bahwa aku sedang memantau setiap gerak-geriknya seperti sutradara film dewasa pribadi. Tubuhnya yang montok, kulit putih mulus asal Bogor, dan sikap ramahnya yang polos telah menjadi magnet bagi semua lelaki di sekitar.

Pagi itu, jam sembilan lewat sedikit, klakson tukang sayur terdengar nyaring dari kamera luar. Pak Ujang datang dengan motornya yang penuh keranjang. Rina keluar rumah dengan daster tipis warna hijau muda yang sangat pendek, hampir tak menutupi paha atasnya. Rambut hitam panjangnya tergerai bebas, wajahnya segar setelah mandi. Payudaranya yang besar bergoyang bebas tanpa bra, puting cokelat mudanya menonjol jelas di balik kain katun yang tipis karena angin pagi.

Beberapa ibu-ibu kampung datang lebih dulu, tapi mereka cepat pergi setelah membeli. Begitu gang sepi, Pak Ujang langsung mendekat ke Rina yang sedang memilih kangkung di keranjang. Senyumnya lebar, mata pria paruh baya itu menelanjangi tubuh Rina tanpa sungkan.

“Wah Mbak Rina, hari ini dasternya makin tipis ya? Bapak sampe susah konsentrasi jual sayur,” kata Pak Ujang dengan suara rendah penuh godaan. Dia mengambil seikat terong besar, yang paling tebal dan berurat di keranjangnya. “Ini terong spesial buat Mbak. Besar, keras, dan panjang. Kemarin Bapak gesek di situ, Mbak nggak marah kan? Malah kelihatan suka.”

Rina tertawa malu, pipinya merona merah, tapi dia tetap berdiri di tempat, membungkuk sedikit untuk melihat keranjang. Dasternya naik tinggi, memperlihatkan garis celana dalam putih tipis yang sudah agak lembab. “Bapak ini… semakin berani saja. Kemarin sudah genit banget. Ibu-ibu lain pada pergi, Bapak langsung ngomong begitu.”

Pak Ujang tertawa pelan, mendekat sampai tubuh kekarnya hampir menempel di samping Rina. Tangannya yang kasar menyentuh pinggang Rina pura-pura membantu memegang plastik. “Mbak cantik dari Bogor ini emang gula banget. Bapak dari kemarin malam mikirin desahan Mbak yang Bapak denger. Suara ‘ahh… lebih dalam’ itu bikin Bapak ngaceng di motor. Sekarang… boleh Bapak tes terongnya lagi ya? Lebih lama.”

Tanpa menunggu jawaban tegas, Pak Ujang mengambil terong itu dan menggesekkannya pelan ke paha luar Rina. Gerakannya naik perlahan ke bawah daster, tepat di celah antara paha dalam. Ujung terong yang bulat dan tebal menyentuh kain celana dalam Rina dari luar, menggesek naik turun pelan di bibir vaginanya yang sudah basah. Rina tersentak kecil, tangannya mencengkeram keranjang, tapi tak menjauh. “Bapak… itu… ah… terlalu berani,” bisiknya, suaranya gemetar tapi ada nada mendesah.

Pak Ujang semakin percaya diri. Dia menggerakkan terong itu lebih tegas, memutar ujungnya di titik sensitif Rina sambil tangan kirinya meremas pinggul istriku pelan. “Mbak basah ya? Kainnya udah lembab. Bayangin kalau ini bukan terong, tapi punya Bapak yang asli. Bapak bisa masukin pelan-pelan di dapur Mbak, sambil pegang payudara besar ini.” Tangan kanannya naik, pura-pura menunjuk sayur lain tapi sengaja menyapu samping payudara Rina, jempolnya menggesek puting yang mengeras.

Rina menggigit bibir, napasnya tersengal. Dari kamera, aku melihat jelas bagaimana pahanya saling gesek, tubuhnya bereaksi kuat. Pak Ujang terus menggoda selama hampir sepuluh menit, menggesek terong di vagina Rina dari luar kain, sesekali menekan lebih dalam hingga Rina mendesah pelan. “Besok Bapak datang lebih pagi. Kalau suami sudah berangkat, Bapak bisa masuk ke teras dan… bantu Mbak masak sambil pijit.”

Suara klakson dan suara anak-anak datang memecah sesi itu. Budi, Dodi, dan enam anak remaja lainnya berlarian mendekat, bola karet mereka memantul di gang. Mereka langsung mengerubungi Rina seperti semut mendekati gula. “Mbak Rina! Pagi Mbak! Dasternya seksi banget hari ini,” seru Budi dengan senyum nakal.

Rina mencoba tersenyum ramah, tapi wajahnya masih merona karena godaan Pak Ujang tadi. “Kalian… main bola aja di sana. Mbak lagi beli sayur.” Tapi anak-anak tak mundur. Mereka berpura-pura membantu memilih sayur, tubuh mereka mendekat dari segala arah.

Dodi membungkuk di depan Rina untuk “mengambil bola” yang sengaja dilempar ke kakinya. Kepalanya hampir menyentuh paha Rina, tangannya naik pelan dari betis ke paha dalam, jari-jarinya mengelus kulit putih mulus itu. “Mbak, paha Mbak halus banget. Wangi sabun.” Rina pura-pura tak tahu, hanya tertawa kecil sambil memilih bayam. “Kamu jahil deh, Dodi. Mirip adik Mbak di Bogor.”

Budi berdiri di belakang Rina saat dia membungkuk. Tangannya menyentuh pinggang Rina, pura-pura menahan agar tak jatuh, tapi telapaknya turun ke bokong montok itu dan meremas pelan dari atas daster. “Bokong Mbak empuk banget. Kemarin pas Mbak doggy di dapur, kami liat jelas.” Remasannya semakin berani, jari-jarinya menekan garis celah bokong.

Dua anak lain berdiri di samping, tangan mereka menyapu lengan Rina dan sengaja menyentuh samping payudaranya yang bergoyang. Satu anak bahkan berani meremas payudara kanan Rina sebentar dari samping, pura-pura “membersihkan daun kering” yang tak ada. “Payudara Mbak besar banget. Berat ya, Mbak? Kami bisa bantu pegang kok,” katanya sambil tertawa.

Rina salah tingkah berat, tubuhnya gemetar, tapi dia tak berteriak atau lari masuk rumah. Dia tetap ramah, memberi mereka es teh dari dalam teras, membiarkan tangan-tangan jahil itu menggerayanginya di mana-mana. Pak Ujang ikut nimbrung, berdiri di samping sambil terus menggesek terong ke paha Rina secara terang-terangan. “Lihat tuh, Mbak. Semua pada ngiler. Bapak kasih sayur sebulan gratis kalau Mbak izinin anak-anak ini pegang lebih lama.”

Anak-anak semakin berani. Mereka mengelilingi Rina rapat, tangan mereka bergerak di bawah pretense bermain. Satu tangan meremas bokong, yang lain mengelus paha dalam, Budi berani menyentuh payudara dari depan sambil “menunjukkan sesuatu di keranjang sayur”. Rina mendesah pelan yang tertangkap audio, kakinya gemetar. Celana dalamnya sudah basah jelas terlihat dari kamera saat angin meniup daster.

Mereka bertahan di teras hampir setengah jam. Rina pura-pura sibuk dengan sayur, tapi tubuhnya jelas horny — putingnya sangat menonjol, napas tersengal, dan dia sesekali menggesekkan pahanya sendiri. Pak Ujang akhirnya pamit, tapi tidak sebelum menggesek terongnya sekali lagi tepat di vagina Rina dan berbisik, “Besok Bapak bawa yang lebih besar. Siap-siap ya, Mbak gula.”

Anak-anak pun perlahan pergi, tapi tak sebelum satu per satu menyentuh Rina sekali lagi — remasan bokong, sapuan di payudara, dan bisik-bisik nakal tentang apa yang mereka lihat malam-malam sebelumnya.

Sepanjang siang, dari kamera, aku melihat Rina masuk rumah dengan langkah goyah. Dia langsung ke kamar mandi, duduk di pinggir bathup sambil tangannya merayap ke bawah daster, menyentuh dirinya sendiri dengan mata terpejam, mungkin membayangkan semua sentuhan tadi. Desahannya pelan tapi jelas tertangkap.

Aku di kantor hampir gila menahan hasrat, tapi aku tahan. Ini baru permulaan. Malam nanti, saat pulang, aku hanya akan memeluk Rina sebentar dan mendengar ceritanya singkat. Fokusku tetap pada rekaman dan live CCTV. Rina semakin larut sebagai pusat perhatian di kampung ini, dikelilingi Pak Ujang yang mesum dan anak-anak yang tak kenal batas. Dan aku, sebagai suami yang menyaksikan dari jauh, semakin ketagihan dengan pemandangan itu.

Gang semakin sepi sore harinya, tapi bisik-bisik dan rencana anak-anak untuk besok sudah terdengar samar dari kamera luar. Besok akan lebih intens lagi.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 7

Perjalanan Neraka Kenikmatan Bab 7

Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 10