Rina istri ku kubiarkan dinikmati Bab 9
**Bab 9: Kerumunan yang Semakin Rakus**
Aku, Andi, kembali duduk di kursi kantor dengan pintu terkunci rapat. Ponsel di tangan, aplikasi CCTV terbuka lebar di layar penuh, earphone menancap di telinga. Hari ini aku sengaja mengambil shift pagi panjang, alasan meeting virtual yang tak penting. Rina tak tahu apa-apa. Dia hanya istri cantikku yang polos dari Bogor, kini menjadi pusat perhatian seluruh kampung kumuh ini. Aku hanya ingin menonton dari jauh, menyaksikan bagaimana tubuh montoknya yang putih mulus, payudaranya yang besar, dan bokong bulat sempurnanya semakin larut dalam godaan yang tak berhenti.
Pagi Senin kedua ini, cuaca Jakarta semakin panas dan lembab. Jam sembilan tepat, klakson Pak Ujang terdengar nyaring dari kamera luar. Rina keluar rumah dengan daster tipis warna putih yang hampir transparan karena keringat. Kainnya menempel ketat di tubuh, memperlihatkan bentuk putingnya yang sudah mengeras dan garis celana dalam hitam tipis di bawah. Rambut hitam panjangnya diikat tinggi, leher jenjangnya berkilau keringat.
Pak Ujang turun dari motornya dengan senyum lebar penuh nafsu. Keranjang sayurnya penuh, tapi matanya hanya tertuju pada Rina. “Mbak Rina… hari ini daster putihnya bikin Bapak langsung ngaceng dari jauh. Kayak nggak pakai apa-apa. Payudara Mbak kelihatan banget, putingnya ngaceng manja,” katanya langsung tanpa basa-basi, suaranya rendah tapi jelas tertangkap audio.
Rina tertawa malu, pipinya merona merah, tapi tetap mendekat ke keranjang. “Bapak… pagi-pagi sudah mesum. Ibu-ibu lain belum pada datang.” Pak Ujang tertawa serak, langsung mengambil dua terong besar yang paling tebal dan panjang. “Hari ini Bapak bawa yang spesial. Lihat ukurannya, Mbak. Mirip punya Bapak pas lagi hard. Kemarin Mbak suka kan digesek? Sekarang Bapak mau lebih dalam.”
Dia tak menunggu. Saat Rina membungkuk memilih bayam, Pak Ujang berdiri rapat di belakangnya. Terong besar itu dia gesekkan pelan dari belakang ke bokong Rina, menekan kain daster hingga masuk ke celah bokong. Ujungnya yang bulat menyentuh celana dalam Rina tepat di lubang vagina dari luar kain. Gerakannya naik turun, memutar pelan, menekan lebih kuat hingga Rina menggigit bibir dan mendesah kecil. “Bapak… ah… itu terlalu… di luar rumah gini…”
Pak Ujang tak peduli. Tangannya kiri memegang pinggang Rina erat, menarik tubuh istriku ke belakang hingga bokongnya menempel di tubuh pria itu. “Mbak basah banget sudah. Kain celananya licin. Bayangin terong ini masuk beneran ke dalam vagina Mbak yang sempit. Bapak gesek di sini sambil pegang payudara besar Mbak.” Tangan kanannya naik ke depan, meremas payudara kiri Rina dari atas daster, memilin putingnya yang keras dengan jempol kasar. Rina pura-pura sibuk dengan sayur, tapi pinggulnya bergoyang pelan mengikuti gerakan terong yang semakin dalam menggesek.
Sesi itu berlangsung lama. Pak Ujang menggesek terongnya bolak-balik, sesekali menekan hingga ujungnya hampir mendorong kain celana dalam masuk sedikit ke lubang. “Desahan Mbak kemarin malam masih kebayang. Besok Bapak masuk ke dapur, Mbak. Bapak mau coba masukin terong ini beneran sambil Mbak masak.” Rina hanya mendesah pelan, tubuhnya gemetar, cairannya sudah membasahi celana dalam hingga terlihat basah dari kamera.
Belum sempat Pak Ujang selesai, anak-anak kampung datang berbondong-bondong. Kali ini ada sepuluh orang, usia 13 sampai 17 tahun. Mereka langsung mengerubungi Rina seperti serigala kelaparan. “Mbak Rina! Dasternya basah nih di belakang,” seru Budi sambil tertawa. Mereka tak lagi pura-pura main bola jauh. Mereka mengelilingi Rina rapat di depan keranjang sayur Pak Ujang.
Dodi langsung membungkuk di depan Rina, tangannya naik dari betis ke paha dalam, jari-jarinya mengelus kulit putih yang licin keringat. “Paha Mbak panas banget. Kemarin pas Mbak digesek Pak Ujang, kami liat dari ujung gang.” Tangan lain anak menyentuh pinggang Rina dari samping, naik ke payudara kanan, meremas pelan sambil berpura-pura “membantu angkat plastik”. Rina pura-pura tak tahu, hanya tertawa kecil dengan suara gemetar. “Kalian… jahil sekali. Mbak cuma beli sayur.”
Budi berdiri tepat di belakang, lebih berani dari kemarin. Tangannya meremas bokong Rina kuat dari atas daster, menekan celahnya, jari tengahnya menggesek tepat di lubang anus dari luar kain. “Bokong Mbak empuk banget, Mbak. Pas Mbak doggy dulu, kami pada ngocok bareng liat ini.” Remasannya semakin kasar, menarik bokong Rina ke belakang hingga tubuhnya bergoyang. Dua anak lain di samping kiri dan kanan meremas kedua payudara Rina secara terang-terangan, memilin putingnya melalui kain tipis. “Payudara Mbak berat dan kenyal. Boleh kami hisap besok, Mbak?”
Pak Ujang ikut tertawa, tak mau kalah. Dia tetap menggesek terong besarnya di depan, tepat di vagina Rina, sementara anak-anak menggerayangi dari segala arah. Rina dikelilingi rapat, tubuhnya seperti digoyang-goyang oleh tangan-tangan kasar remaja dan pria tua. “Mbak Rina kayak gula manis. Semua pada mau jilat,” kata Pak Ujang sambil menekan terong lebih kuat, memutar ujungnya di klitoris Rina dari luar kain hingga Rina mendesah lebih keras, “Ah… pelan… Bapak… Dek…”
Anak-anak semakin rakus. Satu anak berani menyelipkan tangan ke bawah daster dari samping, menyentuh paha dalam dan hampir menyentuh celana dalam yang basah. Yang lain menarik tali daster di bahu hingga melorot sedikit, memperlihatkan sebagian payudara kanan yang putih. Mereka tertawa nakal, bisik-bisik mesum tentang ukuran payudara Rina, betapa basahnya dia, dan bagaimana mereka ingin gantian “main” seperti suaminya.
Rina berdiri di tengah kerumunan itu hampir empat puluh menit. Tubuhnya digerayangi tanpa henti — remasan bokong, sapuan dan cubitan di payudara, gesekan terong Pak Ujang yang tak berhenti, jari-jari anak-anak yang menjelajah paha dan pinggul. Dia pura-pura fokus memilih sayur dan memberi mereka es teh, tapi dari kamera jelas terlihat: matanya berkabut, napas tersengal, pahanya saling gesek kuat, dan celana dalamnya sudah banjir hingga menetes sedikit ke paha.
Pak Ujang akhirnya pamit dengan janji besok akan datang lebih pagi dan “masuk rumah”. “Sayur sebulan gratis, Mbak. Asal Bapak boleh coba masukin terong ini beneran sebentar.” Anak-anak pun pergi satu per satu, tapi tak lupa menyentuh sekali lagi — remasan terakhir di bokong, cubitan puting, dan bisik “Besok kami tunggu Mbak di teras, mau liat lebih banyak.”
Sepanjang siang, kamera menangkap Rina yang masuk rumah dengan langkah goyah. Dia duduk di sofa ruang tengah, tangannya merayap ke bawah daster, menyentuh dirinya sendiri sambil mata terpejam. Desahannya pelan tapi panjang, “Ah… mereka semua… tangannya panas…” Dia klimaks sendiri di depan kamera, tubuh montoknya kejang, cairan membasahi sofa.
Aku di kantor hanya bisa menonton dengan napas tertahan, tanganku gemetar. Malam nanti aku pulang biasa saja, mendengar cerita singkat Rina dengan suara lelah tapi horny, lalu memeluknya sebentar. Tapi pikiranku sudah melayang ke besok. Kerumunan semakin rakus, Rina semakin larut, dan CCTV ini menjadi jendela pribadiku ke surga neraka kampung kumuh ini.
Gang mulai sepi, tapi bisik-bisik anak-anak dan rencana Pak Ujang untuk esok pagi sudah terdengar samar dari mikrofon kamera luar. Besok, gula itu akan semakin dikelilingi, semakin digerayangi, dan semakin basah.
Komentar
Posting Komentar